Betapa Dia Mencintaiku

Tanpa sehelai benang pun ku dilahirkan
lemah tak berdaya
rapuh tak bisa mengeluh
menangis seakan tanpa habis
memohon rahmatNya ...
lewat tangan-tangan hambaNya yang mulia
Sungguh betapa Dia Mencintaiku


dalam tangis itu ...
Dia menganugerahiku seorang Ibu
bertaruh dengan nyawanya
berkorban dengan segala yang ia punya
jiwa raga yang seakan tak pernah goyah
mengamini titah Sang Pemberi amanah
Sungguh betapa Dia Mencintaiku

dalam tangis itu ...
Dia melindungiku dalam tanggung jawab seorang ayah
bertaruh suka dan duka
tak peduli peluh, lupa menyeka
senantiasa berdo'a, memohon pertolonganNya
bertasbih, bertahmid, bertahlil ... hanya kepadaNya
Mengumandangkan di sisi telingaku, Adzan dan Iqomah
Mengenalkanku pada Sosok Pencipta dan Pemberi cinta
meski ku belum berbuat dan tak berjasa
Sungguh betapa Dia Mencintaiku

dalam tangis itu ...
Ribuan malaikat mengamini do'a-do'a
menyaksikan perjuangan cinta sang hamba
lebur dalam resah, hanyut dalam asa
menggerakkan hati yang mulia
menggetarkan tangan-tangan yang ringan
satu padu dalam satu tujuan
kehadiran satu kehidupan, harapan masa depan
Sungguh betapa Dia Mencintaiku

dalam tangis itu ...
HidayahNya menuntunku tuk bernafas
menghirup oksigen dengan lepas ...
RahmatNya menuntunku tuk berjuang
bergerak bebas, meraih potensi dalam ruang
pendengaranku ...,
tangan, kaki dan senyumku ...,
organ-organ dan seluruh tubuhku ...,
mengikuti sunnahNya, menyusuri titahNya
Sungguh betapa Dia Mencintaiku

Hamdan syakirin, hamdan na'imin
Yaa Robbana lakal hamd
syukurku untukMu, dzikirku atas kebesaranMu
kesempatan tuk lebih mengenalMu
dalam taburan cinta, terselip pada hidayah dan rahmatMu
kesempatan berbagi dengan hambaMu
kesehatan ..., lebih indah bersujud kepadaMu
Waktu-waktu indah ..., sederhana dalam mentaatiMu
Sungguh ...., betapa Engkau mencintaiku.

>>>sepuluh hari dengan sepuluh puisi cinta<<<

Salam 
Jari Anto dari tempat terindah dalam qolbu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Seorang Mualaf: MAHER ZAIN

Bisik Hening Malam..