30 Hari Memburu Cinta

Assalamualaikum Wr Wb.
Menurut definisi secara bebas diartikan bahwa “Cinta” adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Filsuf Yunani kuno, Plato, dalam karyanya yang berjudul Symposium menulis bahwa cinta akan ide daripada kebaikan adalah dasar dari semua kebajikan dan kebenaran.
Dalam buku “The Art of Loving” Erich Fromm menyatakan bahwa ada empat gejala daripada cinta tersebut yaitu : Care, Responsibility, Respect and Knowledge (CRRK).
Bagi seorang muslim tingkatan cinta yang paling tinggi atau paling mulia adalah cinta kepada Allah SWT.
Meminjam pernyataan Erich Fromm seperti tersebut diatas, tentunya minimal ada empat langkah yang diperlukan sebagai sebuah proses dalam rangka mencintai Allah SWT.
1. Knowledge / Pengenalan.
Mengenal atau pengenalan adalah merupakan proses awal yang diperlukan oleh seseorang sebelum lebih lanjut mengutarakan cintanya, “tak kenal maka tak sayang” demikian menurut peribahasa.
Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Maha Pemurah, sehingga tak segan-segan Dia memperkenalkan diri-Nya kepada kita semua sebagai makhluknya secara vulgar melalui ayat-ayat-Nya baik yang tersirat maupun yang tersurat.
Betapa banyak tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya yang tergambar begitu nyata dan jelas (ceta wela-wela) di alam semesta ini.
Berapa banyak Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an berupaya mempromosikan dan memperkenalkan diri-Nya kepada kita, sebagai bagian dari bentuk kasih dan sayang-Nya kepada kita. Adalah merupakan sebuah kerugian besar apabila kita tidak mau atau enggan untuk mengenal-Nya.
Allah SWT memperkenalkan bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita:
“Wa-idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa-innii qariibun ujiibu da’wata alddaa’i idzaa da’aani falyastajiibuu lii walyu/minuu bii la’allahum yarsyuduuna.”
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  (QS: Al-Baqarah ayat 186)
Allah SWT membalas cinta kepada hamba-hambanya yang mencinta-Nya:
Dalam sebuah Hadist Qudsi disebutkan bahwa: Nabi Muhammad SAW bersabda: ” Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, Allah SWT berfirman: ” Siapakah yang mencintai-Ku, maka AKU akan mencintainya, siapakah yang mencari-Ku, maka AKU akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka AKU akan mengampuninya berkat kehormatan bulan Ramadhan”. Lalu Allah memerintahkan para malaikat penulis yang mulia pada bulan Ramadhan, agar menulis untuk mereka segala kebaikan dan tidak menulis kejahatan, dan Allah menghapus dosa-dosa mereka yang telah lampau . (Kitab Durrotun Nasihin, Syech Usman Bin Hasan Bin Ahmad Asy-Syakir Al Khaubawi)
Agar mengenal Allah SWT, seorang hamba harus kenal dan paham terhadap dirinya sendiri :
“Wafii anfusikum afalaa tubshiruuna”.
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan (mengenal) ?” (QS Adz Dzaariyaat ayat 21).
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”.
“Barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”.(Ahlul Hikmah)
2. Care / Perhatian.
Seorang yang jatuh cinta tentunya akan menaruh perhatian yang luar biasa pada objek yang dicintainya, pendeknya dalam situasi yang bagaimanapun dan kondisi seperti apapun akan selalu mengingat dan memperhatikan sesuatu yang dicintannya tersebut.
Selalu mengingat akan objek yang dicintainya dalam kondisi apapun adalah normal bagi seorang yang sedang jatuh cinta, seorang hamba yang mencintai Tuhannya akan selalu mengingatnya dalam segala keadaan:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran ayat 191)
Atau sebagaimana syair sebuah lagu :
“Mau makan kuingat dirimu, mau tidur kuingat dirimu, disetiap waktu kuingat dirimu, kekasihku”, (Evie Tamala)
Salah satu bentuk perhatian kepada sesuatu yang dicintai adalah dengan sering menyebut nama atau memuji objek yang dicintai tersebut. Seorang hamba yang mengakui mencintai Tuhannnya tentu akan sering menyebut Asma-Nya.
“Man ahabba syaian aktsara min dzikrihi”
“Barangsiapa mencintai sesuatu tentu akan memperbanyak dalam menyebut (mengingat) nya”. (Hadist ini diriwayatkan dalam Al-Firdaus)
Karena dengan memperbanyak menyebut Asma Allah Yang Maha Kasih itu akan memberikan getar-getar yang indah dan luar biasa bagi kalbu seorang pencinta.
“Innamaa almu/minuuna alladziina idzaa dzukira allaahu wajilat quluubuhum wa-idzaa tuliyat ‘alayhim aayaatuhu zaadat-hum iimaanan wa’alaa rabbihim yatawakkaluuna”.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS Al-Anfal ayat 2)
Juga dengan banyak mengingat Asma Allah SWT akan memberikan ketentraman dan ketenangan dalam jiwa.
“Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu”.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’d ayat 28)
3. Respect / Hormat.
Rasa hormat yang tumbuh dalam hati yang terdalam akan terwujud dalam bentuk pengabdian yang sungguh-sungguh. Rasa hormat akan melahirkan ketulusan dan keikhlasan dalam kepatuhan.
Seorang pencinta akan selalu tulus mengabdi kepada yang dicintainya.
“Mathlabul ‘aarifiina minallaahi ta’aalash shidqu fil ‘ubuudiiyati wal qiyaamu bihuquuqir rubuubiiyati”
“Yang diminta orang arif kepada Allah adalah ketulusan dalam menghamba dan pemenuhan hak-hak ketuhanan-Nya”.( Kitab Al Hikam, Ibnu Atha’illah)
Seorang pencinta akan selalu sungguh-sungguh dalam kepatuhannya dan selalu bersandar kepada kekasih yang dihormatinya.
“Faidzaa faraghta fanshab”.
” Wailaa rabbika farghab”.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS Alam Nasyrah ayat 7 dan 8)
4. Responsibility / Tanggung Jawab.
Sebagai wujud tanggung jawab sebagai seorang hamba yang mencintai Tuhannya tentu harus dibuktikan dengan kesediaan untuk menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Bagaimanapun susahnya sebuah tanggung jawab bagi seorang pencinta akan berusaha untuk menjalankannya sehingga tanggung jawab itu menjadi terasa indah dan mudah.
“Wai’lamuu anna fiikum rasuula allaahi law yuthii’ukum fii katsiirin mina al-amri la’anittum walaakinna allaaha habbaba ilaykumu al-iimaana wazayyanahu fii quluubikum wakarraha ilaykumu alkufra waalfusuuqa waal’ishyaana ulaa-ika humu alrraasyiduuna”.
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”. (QS Al-Hujuraat ayat 7)
Seorang pencinta yang bertanggung jawab akan berupaya menyerahkan keinginannya kepada kehendak yang dicintanya.
“Khoiru maa tathlubuhu minhu maa huwa thoolibuhu minka”.
“Sebaik-baik permohonan yang harusnya engkau ajukan kepada Allah adalah apa yang dituntut Allah untuk engkau lakukan”. (Kitab Al Hikam, Ibnu Atha’illah)
Bulan Ramadhan adalah bulan Cinta dan Kasih Sayang, telah hampir sebulan penuh (30 Hari) kita berlomba-lomba berburu Cinta-Nya. Satu bulan penuh (30 Hari) percik-percik cinta dan kepatuhan kita kepada Allah SWT telah kita wujudkan dalam keikhlasan menanggung rasa lapar, dahaga serta godaan hawa nafsu. Satu bulan penuh (30 hari) hasrat cinta kita membawa kita berpasrah dalam sujud-sujud panjang, dalam galau, rindu dan takjub kepada Allah SWT Dzat Yang Maha Cinta.
Semoga kita semua termasuk golongan hamba yang mencintai dan dicintai oleh Allah SWT. Semoga curahan cinta Allah dalam kalbu kita membias pada sekeliling kita, keluarga kita, karib kerabat kita, tetangga kita, sahabat-sahabat kita. Semoga kita termasuk golongan orang yang mampu menebar Cinta dan Kasih Sayang dimuka bumi ini.
“CINTAILAH YANG DIBUMI MAKA YANG DILANGIT AKAN MENCINTAIMU”.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, selamat mencari Cinta Allah untuk Kalian,,,,
Brebes, 25 Juli 2011
Wasalam
Jari Anto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Seorang Mualaf: MAHER ZAIN

Bisik Hening Malam..