Tongkat Sakti Sang Anak

Suatu hari seorang ayah menyuruh anaknya pergi ke suatu lembah untuk mencari burung sebagai kebutuhan sehari-hari.
"Nak pergilah engkau ke lembah itu dan carilah burung untuk kita makan" ujar ayahnya.
"Iya ayah, aku ajan segera kesana".
Pergilah anak itu sembari membawa sangkar seadanya. Ditengah perjalanan dia bertemu dengan seorang kakek.
"Pagi-pagi begini mau pergi kemana nak,,," sapa kakek itu.
"Aku disuruh ayah untuk mencari burung di lembah di balik bukit itu kek"
"Sini nak, bawalah tongkat ini untuk menjaga dirimu selama dalam perjalanan. Kau pukulkan saja jika ada hewan atau apapun yang nengganggumu"
"Baiklah kek, aku pamit untuk melanjutkan perjalanan"
"Hati-hati yah nak", pungkas kakek itu.
Anak itu berlalu menuju lembah yang masih jauh ditempuh. Berpuluh kilometer anak itu berjalan sampai pada akhirnya dia bertemu dengan seekor ular. Ular itu mendesis seolah akan mematuk anak itu.
"Oh ada ular", gumam anak itu, segeralah tongkat pemberian kakek tadi dipukulkan ke arah ular itu dan clinkkk lenyaplah ular itu seketika.
"Waw hebat tongkat ini,,,", ucap anak itu kegirangan.
Tidak lama sampailah anak itu di sebuah bukit terakhir menuju lembah. Dan tak disangka dihadapannya ada seekor harimau. Haaauuumm......
Harimau itu mengaum. Dengan sigap anak itu memukulkan tongkat ke arah harimau dan lagi-lagi clinkk lenyaplah harimau itu.
Lega rasanya hati anak itu, dan akhirnya tiba juga di lembah yang dimaksud.
"Huhh sampai juga dilembah ini, aku harus segera mencari burung untuk makan bersama ayah", gumam anak itu.
Kicauan segerombolan burung membuat anak itu tertarik untuk menangkapnya. Dengan penuh hati-hati dia mencoba menangkap untuk beberapa ekor burung. Namun sayang, sebagian burung itu terbang dan tak kembali. Agak kesal sepertinya anak itu. Harapannya tinggal dua ekor yang tersisa direrimbunan pohon. Perlahan namun penuh nafsu anak itu menangkapnya dengan memukulkan tongkat ke arah burung itu dan alhasil burung itu seketika lenyap hilang tak bersisa.
"Oh tuhan, kenapa aku pukulkan tongkat ini ke burung itu?".
Akhirnya dengan tangan hampa, anak itu kembali ke rumah dan menceritakan kepada ayahnya.
"Maafkan aku ayah, aku telah bertindak bodoh".
"Anakku, tak mengapa nak, yang penting kau selamat kembali ke rumah".
"Nak, dalam hidup ini kita harus menggunakan akal untuk melakukan segala sesuatu, namun kadangkala juga kita menggunakan perasaan untuk menentukan sesuatu. Jadi lakukanlah semau kamu tetapi harus menggunakan akal dan perasaan kamu", nasihat ayah pada anaknya.
"Iya ayah aku mengerti", ucap anak itu sambil memeluk ayahnya.
Dibelailah kepala anak itu dengan penuh kasih sayang.


Note: dongeng pengantar minum susu anakku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Seorang Mualaf: MAHER ZAIN

Bisik Hening Malam..